Tuesday, April 23, 2013

Menjadi seorang Ibu

Kita semua tahu bahwa membesarkan seorang anak tidaklah semudah mainan tamagochi. Mereka tidak hanya perlu diberi makan, dimandikan, diberi perawatan jika sakit, atau diajak main jika tidak senang. Tapi mereka juga perlu ditanamkan moral, kebiasaan dan tingkah laku yang positif sejak dini agar menjadi pribadi yang berkarakter positif juga. Disitulah tantangan menjadi orang tua, terutama seorang ibu karena pada hakikatnya merekalah yang lebih banyak dirumah bersama anak-anak dibandingkan ayahnya yang harus bekerja. Jika anda seorang wanita pekerja, maka hal ini seharusnya menjadi tantangan yang lebih berat lagi. Bagaimana anda bisa mengatur waktu menjadi seorang wanita karir dan seorang ibu.

Tapi ketahuilah, saat ini bagiku ternyata menjadi seorang ibu sepenuhnya dirumah menjadi tantangan yang sangat amat tidak mudah dalam hal mendidik dan merawat anak. SANGAT TIDAK MUDAH! Ini dikarenakan tingkat stress yang cenderung lebih tinggi, dibanding saya punya waktu lain ketika bekerja dulu. Semua tantangan dalam menghadapi tingkah polah anak semuanya ditujukan kepadaku, setiap saat, setiap waktu. Tidak bisa berbagi sebentar dengan si Mbak, atau Baby sitter, atau Kerabat kita (ayah, ibu, tante, kakak, dll). Sebuah kutipan yang mengatakan "Menjadi seorang IBU adalah Pekerjaan Terberat di Dunia" kini benar-benar aku rasakan. Mungkin beberapa wanita merasa "iya emang berat, tapi gak usah di dramatisir gituh ah.. Enjoy ajah! " Aku mengatakan ini bukan ingin mendramatisir, aku hanya ingin mengatakan bahwa janganlah Anda menganggap remeh 'status' menjadi Orang Tua. Anak kita itu hanya titipan Allah SWT, titipan berharga dari Tuhan yang Maha Kuasa, jadi kita tidak boleh sembarangan merawatnya. Kita harus berusaha, berjuang untuk berikan yang paling terbaik untuk mereka.

Dan sepertinya disitulah masalahku. Aku adalah wanita yang perfeksionis, seseorang yang paling tidak suka jika ada sesuatu berjalan tidak sesuai harapannya. Begitupun dalam menjalani peranku sebagai Ibu, semua harus sesuai harapanku. Jika tidak, entah kenapa aku langsung merasa gagal dan tak pantas mengemban tugas ini dan sudah pasti merasa kesal. Sungguh membuat depresi! Padahal dalam kehidupan sehari-hari diluar peranku sebagai ibu, rasanya aku lebih fleksibel, lebih bisa bersimpati, dan lebih sabar.

Terhadap anak, sepertinya aku terlalu terpaku untuk selalu memberikan yang terbaik, sehingga jika tidak berhasil aku menjadi mudah kecewa, mudah emosi. Aku yang merasa ahli terhadap "penanganan emosi" menjadi amatiran ketika berhadapan dengan anakku. Aku merasa tidak tahu apa-apa, merasa tidak benar menjadi orang tua, khususnya menjadi Ibu. Aku menjadi lebih mudah negatif dalam menilai diriku dan terkadang susah melihatnya dari dua sisi. Padahal dulunya aku paling jago berpikiran positif, dan melihat segala sesuatunya dari dua sisi loh. Tapi kenapa jika menghadapi anakku, aku seolah tak berdaya..

Duh, Kasian Disa.. :(

Terkadang, aku suka menyalahkan keputusanku yang segera mengiyakan permintaan suami tanpa berpikir secara matang untuk langsung memiliki anak. Karena rasanya saat aku setuju punya anak tapi dalam batin terasa tidak siap. Ketidaksiapan ini diantaranya disebabkan oleh sifat diriku yang pada dasarnya sejak dulu tidak merasa senang saat bersama anak kecil. Akupun terkenal "galak" (maksudnya sih tegas) terhadap kedua keponakanku. Dulu setiap ada anak kecil disekitarku, aku bukan tipe yg ingin menggendong mereka atau ingin bercanda dengan mereka. Aku adalah tipe yg tetap menegur, tetap tertawa, tapi tak berusaha untuk berlama-lama atau mendekatkan diri. Karena itulah, ketika aku mengetahui sedang hamil, terbesit sedikit keraguan apakah aku sanggup mengurus anak, apakah aku bisa menjadi ibu yang baik.

Mungkin keraguanku itu yang membuat aku menjadi berusaha keras ingin menjadi ibu yang terbaik. Tapi usaha tersebut juga yang membuat aku terlalu terpaku pada pakem-pakem yang aku tau adalah yang terbaik, sedangkan menjadi orang tua seharusnya sebuah seni. Sebuah kutipan dari akun twitter @anakjugamanusia menyadari ku bahwa Kebahagiaan dalam perjalanan mengasuh & mendidik anak bukanlah karena mencapai suatu hal, namun karena mensyukuri setiap langkah kecil yang kita jalani. Termasuk setiap langkah yang kita jalani dalam belajar menjadi orang tua yang terbaik bukan buat orang lain.. Tapi terbaik buat ANAK KITA..

Semoga aku bisa..

A note for Anhebra :
- Seperti yang ibu baca di akun twitter mba @ratihibrahim, menjadi orang tua bukanlah sekedar mengemban status, ini adalah pekerjaan yang penuh pembelajaran, kontrak seumur hidup tanpa libur, learning by doing, trial & error. Namun juga sangat mulia, karena 'surat penugasannya' langsung ditandatangani oleh Allah SWT. Jadi sedikit tips buat anak-anakku, yakinkan dirimu bahwa kalian benar-benar ingin menjadi orang tua dari lubuk hati kalian yang terdalam, khususnya menjadi seorang ibu. Semoga dengan begitu pembelajaran kalian sebagai orang tua jadi sedikit lebih 'terasa' ringan karena kalian sudah diberikan sesuatu yang kalian inginkan sehingga kalian akan lebih menghargainya.

Sent from BlackBerry® on 3